
(Jakarta, ISC): Rapat Kerja Teknis (RAKERNIS) Badan Otonom Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Keluarga Alumni Lembaga Ketahanan Nasional (DPP IKAL-Lemhannas) Tahun 2026, menjadi momentum penting untuk memperkuat profesionalisme organisasi sekaligus mempertegas posisi IKAL-Lemhannas sebagai mitra strategis pemerintah dalam mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045.
Ketua Umum DPP IKAL-Lemhannas, Ketua Umum DPP IKAL-Lemhannas Prof. Ir. Purnomo Yusgiantoro MSC., MA., PhD., IPU, dalam kata sambutannya menegaskan bahwa hubungan antara IKAL-Lemhannas dengan pemerintah harus dipahami sebagai kemitraan strategis yang dilandasi semangat kolaborasi, bukan hubungan subordinatif. Menurutnya, sebagai organisasi alumni lembaga kader kepemimpinan nasional, IKAL-Lemhannas memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan nasional melalui pemikiran, kajian strategis, penguatan kapasitas sumber daya manusia, serta berbagai program yang bermanfaat bagi bangsa.
Baca juga: LSP IKAL-Lemhannas Matangkan Program Sertifikasi Profesional
“IKAL-Lemhannas hadir sebagai mitra konstruktif. Kita mendukung pembangunan nasional dengan memberikan gagasan, tenaga, dan program-program yang mampu memperkuat kualitas tata kelola pemerintahan serta mendorong terwujudnya Indonesia Emas 2045,” ujar Ketua Umum DPP IKAL-Lemhannas Prof. Ir. Purnomo Yusgiantoro MSC., MA., PhD., IPU dalam sambutannya pada pembukaan RAKERNIS Badan Otonom DPP IKAL-Lemhannas di Jakarta, Senin (27/7/2026).
Ia menjelaskan, dukungan terhadap agenda pembangunan nasional tidak berarti menghilangkan independensi organisasi. Sebaliknya, IKAL-Lemhannas tetap menjaga objektivitas dan kebebasan berpikir dalam memberikan berbagai rekomendasi kebijakan yang konstruktif. Dalam sistem demokrasi yang sehat, organisasi alumni memiliki ruang untuk menjadi mitra kritis yang mampu memberikan masukan berdasarkan pengalaman, kompetensi, dan kepakaran para anggotanya yang berasal dari berbagai sektor strategis bangsa.
Baca juga: ISC Siapkan 84 Kajian Strategis untuk Kawal Program Prioritas Presiden
Menurut Prof. Purnomo Yusgiantoro, Indonesia menuju 2045 menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari dinamika geopolitik global, transformasi digital, perubahan ekonomi dunia, hingga tuntutan tata kelola pemerintahan yang semakin akuntabel. Oleh karena itu, pembangunan nasional membutuhkan kolaborasi seluruh elemen bangsa, termasuk organisasi-organisasi strategis seperti IKAL-Lemhannas yang memiliki jaringan alumni di lingkungan pemerintahan, TNI, Polri, akademisi, dunia usaha, dan berbagai institusi lainnya.
“Modal terbesar IKAL-Lemhannas adalah jejaring alumninya yang memiliki pengalaman memimpin di berbagai bidang. Potensi tersebut harus disinergikan agar mampu menghasilkan solusi, inovasi, dan rekomendasi kebijakan yang dapat mendukung percepatan pembangunan nasional,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Purnomo Yusgiantoro juga menekankan pentingnya penerapan tata kelola organisasi yang profesional, transparan, dan akuntabel. Menurutnya, profesionalisme badan otonom harus menjadi fondasi utama agar organisasi mampu berkembang secara berkelanjutan dan memberikan manfaat yang lebih luas kepada masyarakat.
Ia menegaskan bahwa sistem pengawasan yang efektif merupakan bagian penting dalam membangun organisasi modern. Pengawasan, katanya, bukan untuk membatasi kreativitas maupun ruang gerak badan otonom, melainkan memastikan seluruh program berjalan sesuai prinsip good governance, efektif, efisien, serta dapat dipertanggungjawabkan.
“Dalam organisasi modern, pengawasan merupakan instrumen untuk menjaga integritas. Inspektorat Utama memiliki peran strategis sebagai penjaga akuntabilitas organisasi sehingga setiap program dapat berjalan sesuai dengan visi dan tujuan organisasi,” ujar Prof. Purnomo Yusgiantoro.
Menurutnya, fungsi pengawasan yang kuat akan mendorong terciptanya budaya evaluasi dan perbaikan berkelanjutan sehingga badan-badan otonom mampu meningkatkan kualitas program, memperkuat tata kelola kelembagaan, sekaligus membangun kepercayaan publik terhadap organisasi.
Lebih lanjut, Prof. Purnomo Yusgiantoro menilai RAKERNIS Badan Otonom Tahun 2026 tidak sekadar menjadi agenda rutin penyusunan program kerja tahunan, tetapi harus menjadi titik awal transformasi budaya organisasi menuju kelembagaan yang lebih profesional, kolaboratif, adaptif, dan mandiri. Forum ini diharapkan mampu menyelaraskan visi seluruh badan otonom sekaligus memperkuat sinergi agar setiap program memiliki arah yang jelas dan memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan nasional.
“RAKERNIS ini merupakan momentum konsolidasi organisasi. Seluruh badan otonom harus mampu menyusun program yang tidak hanya menjawab kebutuhan internal organisasi, tetapi juga memberikan solusi terhadap berbagai tantangan pembangunan bangsa,” katanya.
Prof. Purnomo Yusgiantoro, dengan jaringan alumni yang tersebar di berbagai sektor strategis, IKAL-Lemhannas memiliki modal sosial dan intelektual yang sangat besar untuk memperkuat perannya sebagai pusat kolaborasi nasional. Menurutnya, apabila seluruh badan otonom mampu menjalankan fungsi secara optimal, organisasi akan semakin mandiri, profesional, dan memiliki daya ungkit yang lebih besar dalam mendukung agenda pembangunan nasional.
Ia menambahkan, profesionalisasi badan otonom bukan semata agenda internal organisasi, melainkan bagian dari ikhtiar bersama membangun kelembagaan yang modern, berintegritas, dan responsif terhadap perubahan zaman. Kemandirian organisasi yang ditopang oleh tata kelola yang baik akan menjadi modal penting dalam memperkuat kepercayaan publik sekaligus meningkatkan kualitas kontribusi IKAL-Lemhannas terhadap bangsa dan negara.
Menutup arahannya, Prof. Purnomo Yusgiantoro mengajak seluruh jajaran badan otonom menjadikan semangat kolaborasi, integritas, dan pengabdian sebagai landasan utama dalam menjalankan setiap program organisasi. Ia meyakini bahwa melalui kemitraan strategis dengan pemerintah, didukung profesionalisme organisasi dan pengawasan yang efektif, IKAL-Lemhannas akan semakin mampu mengambil peran penting dalam memperkuat kepemimpinan nasional dan mendukung terwujudnya visi Indonesia Emas 2045. * (Humas ISC)