(Jakarta, IS): IKAL Strategic Center (ISC)

tampil sebagai pusat kajian strategis yang mampu menghadirkan second opinion berbasis data, objektif, dan independen guna memperkuat kualitas kebijakan publik nasional. Harapan tersebut mengemuka dalam Rapat Kerja Teknis (RAKERNIS) Badan Otonom Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas (DPP IKAL Lemhannas) yang berlangsung di Jakarta, Senin (27/7/2026).
Dalam kesempatan ini, Ketua ISC Prof. Dr. der. Soz. Gumilar Rusliwa Somantri menegaskan bahwa organisasi yang besar tidak cukup hanya memiliki jaringan luas dan program kerja yang banyak, tetapi juga harus mampu melahirkan gagasan strategis yang memberikan manfaat nyata bagi bangsa dan negara. Menurutnya, keberadaan IKAL Strategic Center (ISC) di bawah naungan IKAL Lemhannas merupakan wujud komitmen organisasi untuk menghadirkan pemikiran yang dapat memperkaya proses pengambilan kebijakan nasional.
Baca juga: LSP IKAL-Lemhannas Matangkan Program Sertifikasi Profesional
“ISC bukan sekadar unit kajian organisasi. ISC harus menjadi pusat pemikiran strategis yang menghadirkan analisis objektif, berbasis data, dan mampu memberikan second opinion bagi pemerintah dalam menghadapi berbagai tantangan pembangunan nasional,” ujar Prof. Dr. der. Soz. Gumilar Rusliwa Somantri.
Ditambahkan pula olehnya bahwa arah pengembangan ISC selaras dengan arahan Ketua Umum DPP IKAL Lemhannas, Prof. Purnomo Yusgiantoro, yang menginginkan agar ISC secara konsisten menghasilkan produk-produk pemikiran berkualitas dan disampaikan secara rutin kepada pimpinan organisasi. Lebih jauh, hasil kajian tersebut diharapkan dapat menjadi referensi yang konstruktif bagi presiden dalam merumuskan maupun menyempurnakan berbagai kebijakan strategis.
Menurut Prof. Dr. der. Soz. Gumilar Rusliwa Somantri, Indonesia saat ini menghadapi tantangan pembangunan yang semakin kompleks, baik di bidang ekonomi, sosial, politik, maupun keamanan. Berbagai program prioritas pemerintah memerlukan dukungan analisis yang komprehensif agar implementasinya berjalan efektif. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan sebuah kebijakan tidak hanya ditentukan oleh visi yang besar, tetapi juga oleh ketepatan dalam mengelola aspek-aspek teknis pelaksanaannya.
Baca juga: ISC Siapkan 84 Kajian Strategis untuk Kawal Program Prioritas Presiden
“Sering kali tantangan terbesar bukan berada pada perumusan kebijakan, tetapi pada implementasinya. Karena itu, pemerintah memerlukan ruang dialog intelektual yang sehat agar setiap kebijakan memperoleh perspektif yang lebih kaya sebelum maupun ketika dijalankan,” katanya.
Prof. Dr. der. Soz. Gumilar menegaskan bahwa second opinion yang disampaikan ISC tidak boleh dipahami sebagai bentuk kritik yang melemahkan pemerintah. Sebaliknya, menurut dia, kajian independen merupakan bagian dari mekanisme demokrasi yang sehat karena memberikan alternatif solusi berbasis ilmu pengetahuan, pengalaman, dan data empiris.
Ia menilai IKAL Lemhannas memiliki modal intelektual yang sangat besar untuk menjalankan peran tersebut. Alumni Lemhannas berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari unsur sipil, militer, kepolisian, birokrasi, akademisi, pelaku usaha, hingga profesional di berbagai bidang. Keberagaman pengalaman itu menjadi kekuatan untuk menghasilkan analisis yang komprehensif dan tidak terjebak pada sudut pandang sektoral.
Dalam forum RAKERNIS tersebut, Prof. Dr. der. Soz. Gumilar juga mengingatkan bahwa setiap kajian ISC harus mampu membaca dinamika geopolitik dan geoekonomi global yang berkembang sangat cepat. Persaingan antarnegara, disrupsi teknologi, perubahan rantai pasok global, hingga meningkatnya ancaman keamanan nontradisional merupakan faktor-faktor yang harus menjadi pertimbangan dalam setiap rekomendasi kebijakan.
“Indonesia tidak bisa memandang persoalan domestik secara terpisah dari perkembangan global. Seluruh dinamika internasional memiliki implikasi terhadap kebijakan nasional sehingga kajian strategis harus mampu menghubungkan keduanya secara utuh,” ujarnya.
Sebagai bentuk implementasi peran tersebut, ISC akan memusatkan perhatian pada sejumlah program strategis pemerintah yang dinilai memiliki dampak besar terhadap pembangunan nasional. Program-program seperti Danantara, Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), serta pengembangan kampung nelayan akan menjadi fokus kajian yang dilakukan secara berkelanjutan.
Namun demikian, Prof. Dr. der. Soz. Gumilar menegaskan bahwa fokus terhadap program pemerintah tidak berarti ISC menjadi bagian dari struktur pemerintahan ataupun kehilangan independensinya. Justru sebaliknya, seluruh kajian harus disusun dengan menjunjung tinggi prinsip netralitas, objektivitas, dan integritas akademik sehingga setiap rekomendasi benar-benar lahir dari analisis ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.
Ia menambahkan bahwa komitmen terhadap objektivitas harus diwujudkan melalui penggunaan data yang kredibel, metodologi penelitian yang kuat, serta pembelajaran dari berbagai praktik terbaik di tingkat internasional. Dengan pendekatan tersebut, ISC diharapkan mampu menghadirkan alternatif kebijakan yang realistis, aplikatif, dan memberikan nilai tambah bagi proses pengambilan keputusan pemerintah.
Prof. Dr. der. Soz. Gumilar juga menekankan pentingnya pendekatan multidisipliner dalam setiap kajian. Menurutnya, persoalan strategis bangsa tidak dapat diselesaikan hanya dari satu disiplin ilmu karena setiap kebijakan memiliki keterkaitan dengan aspek politik, ekonomi, hukum, pertahanan, keamanan, sosial, hingga lingkungan hidup.
“Karena itu seluruh bidang yang ada di ISC harus bekerja secara kolaboratif. Kajian yang baik adalah kajian yang mampu melihat satu persoalan dari berbagai perspektif sehingga rekomendasinya benar-benar komprehensif,” jelasnya.
Selain substansi kajian, penyajian hasil analisis juga menjadi perhatian. Ia mengatakan bahwa para pengambil kebijakan membutuhkan rekomendasi yang ringkas, tajam, dan mudah dipahami. Oleh sebab itu, ISC akan mengembangkan executive brief yang memuat inti persoalan, analisis, dan pilihan kebijakan secara singkat namun tetap berbasis bukti ilmiah.
Menutup pemaparannya, Prof. Dr. der. Soz. Gumilar menegaskan bahwa ISC harus menjadi salah satu kekuatan intelektual IKAL Lemhannas dalam mendukung pembangunan nasional. Menurutnya, organisasi alumni tidak cukup hanya menjadi wadah silaturahmi, tetapi harus mampu menghasilkan pemikiran strategis yang relevan dengan kebutuhan bangsa.
“Melalui kajian yang independen, objektif, dan konstruktif, ISC ingin menjadi mitra strategis pemerintah dalam memperkuat kualitas kebijakan publik. Dengan demikian, kontribusi IKAL Lemhannas tidak hanya dirasakan di lingkungan organisasi, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi pembangunan Indonesia menuju bangsa yang maju, tangguh, dan berdaya saing,” imbuhnya.
Hadir dalam acara ini Ketua Umum DPP IKAL-Lemhannas Prof. Ir. Purnomo Yusgiantoro MSC., MA., PhD., IPU, Sekretaris Jenderal DPP IKAL-Lemhannas Prof. Dr. Ir. Budi Susilo Soepandji, DEA., CES., dan jajaran teras pimpinan DPP IKAL-Lemhannas serta jajaran pimpinan sembilan badan otonom DPP IKAL Lemhanna) Masa Bakti 2026–2031.* (Humas ISC)