Kamis, 24 September 2026

ISC

Ikal Strategic Center

ISC

Ikal Strategic Center

ISC Adakan Focus Group Discussion” (FGD) “Kajian Ekonomi Makro: Early Warning System”

(Jakarta, ISC): IKAL Strategic Center (ISC) mengadakan Focus Group Discussion” (FGD) dengan  mengusung tema “Kajian Ekonomi Makro: Early Warning System”, digelar di Sekretariat Yayasan Purnomo Yusgiantoro, Jakarta, 26 Agustus 2026. Dalam forum ini Ketua Umum DPP IKAL-Lemhannas Prof. Ir. Purnomo Yusgiantoro MSC., MA., PhD., IPU sebagai keynote speach. Hadir juga dalam forum ini selain pakar ekonomi, antara lain oleh Dewan Penasehat DPP IKAl-Lemhannas  Laksamana TNI (Purn) Prof. Dr. Marsetio, S.I.P., M.M. Inspektur Utama  IKAL-Lemhannas Komjen Pol (Purn) Drs. Togar M. Sianipar, M.Si., Koordinator Badan Otonomi IKAL-Lemhannas Dr. Ir. Donny Yusgiantoro, MM., MPA. Serta Dewan Pengarah IKAL Strategic Center (ISC) R.M. Wibawanto Nugroho Widodo, SE., MA., War Colegge D., M.P.P., Ph.D. (Exon) yang bertindak selaku moderator FGD ini.

Juga hadir juga hadir Ketua ISC Prof. Dr. der Soz. Gumilar Rusliwa Somantri, Wakil Ketua I ISC Prof. Drs. Adrianus Eliasta Melilala, MSi., MSc., Phd., Sekretaris ISC Laksda TNI (Purn) Dr. Surya Wiranto, SH., MH., Wakil Sekretaris ISC Dr. Dra. Nieta Hidayani, MB., MM, Ketua Bidang Politik dan Kebijakan Hadiah Herawati SH., LLM., Ketua Bidang Ekonomi  ISC  Prof. Dr. Ending Fadjar, SE., MA., Ketua Bidang Hukum dan HAM ISC Irjen. Pol (Purn) Drs. Bekto Suprapto, MSi., dan anggota Bidang Politik dan Kebijakan Dr. Drs. Abdul Rahman Sabara, MS.IS., MH., serta sejumlah pengurus  bidang ISC dan pengurus pusat DPP IKAL-Lemhannas.

Baca juga: ISC Adakan FGD Bedah Ekonomi Secara Komprehensif

Forum ini semakin penting manakala mengapungkan pula pokok pikiran yang menukik kepada hal ketahanan ekonomi suatu negara yang tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar pertumbuhan ekonominya, juga oleh seberapa jauh negara mampu membaca ancaman sebelum ancaman itu berubah menjadi krisis. Forum ini juga menelsisik dunia ekonomi sekarang bergerak dalam hubungan yang semakin rapat. Guncangan di satu kawasan dapat segera menjalar melalui perdagangan, pasar keuangan, nilai tukar, harga komoditas, dan arus modal.

Dari diskusi ini muncul pemikiran bahwa krisis tidak selalu datang dengan tanda yang dramatis. Ia sering kali bermula dari gejala kecil yang terpisah, lalu perlahan saling menguatkan. Karena itu, kajian sistem peringatan dini ekonomi dipandang bukan sekadar perangkat statistik, melainkan bagian dari kemampuan negara untuk membaca perubahan, memperkirakan risiko, dan menyiapkan tindakan sebelum keadaan berkembang menjadi krisis.

Dalam FGD ini, sejumlah indikator disebut sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan: nilai tukar, inflasi, suku bunga, cadangan devisa, neraca perdagangan, arus modal, tingkat utang, harga komoditas, kondisi sektor perbankan, serta perkembangan ekonomi global. Akan tetapi, diskusi menegaskan bahwa persoalannya bukan sekadar melihat angka yang naik atau turun.

Baca juga: Senjata Sanksi dan Arsitektur Keuangan Dunia: Menuju Era Dedolarisasi?

Yang lebih penting adalah membaca hubungan antarangka tersebut dan menemukan pola risiko di baliknya. Kenaikan harga energi, misalnya, dapat meningkatkan biaya produksi dan transportasi, mendorong inflasi, menekan daya beli, sekaligus memperbesar kebutuhan devisa. Jika kondisi itu bersamaan dengan pelemahan nilai tukar dan keluarnya modal asing, tekanan ekonomi dapat berkembang menjadi jauh lebih kompleks. Dari sini forum sampai pada kesimpulan bahwa peringatan dini pada hakikatnya adalah kemampuan membaca keterkaitan risiko sebelum risiko tersebut berubah menjadi krisis.

FGD kemudian mengangkat berbagai kemungkinan: perubahan kebijakan ekonomi negara besar, perang dagang, konflik geopolitik, gangguan rantai pasok, perubahan harga minyak dan pangan, serta gejolak pasar keuangan internasional. Semua itu dapat memberikan tekanan kepada Indonesia, baik secara langsung maupun melalui saluran yang tidak segera terlihat.

Karena itu, muncul pandangan bahwa pemerintah dan Bank Indonesia tidak cukup hanya bersiap ketika krisis sudah terjadi. Negara perlu memiliki kemampuan membaca kecenderungan, mengenali titik rawan, dan menyiapkan beberapa skenario. Di sinilah forum membedakan kebijakan yang sekadar reaktif dengan kebijakan yang benar-benar antisipatif.

Meski demikian, forum juga mengingatkan agar sistem peringatan dini tidak diperlakukan seperti bola kristal yang mampu meramalkan masa depan secara sempurna. Tidak ada model ekonomi yang dapat memastikan kapan krisis akan terjadi dengan ketepatan mutlak. Yang dapat dibangun adalah kemampuan untuk mengenali sinyal awal, mengukur kerentanan, dan memperkirakan kemungkinan dampak dari sejumlah skenario.

Dalam forum itu muncul pandangan bahwa hasil kajian peringatan dini dapat menjadi salah satu dasar penting untuk pemerintah ketika harus menjaga stabilitas ekonomi. Jika tekanan inflasi meningkat, nilai tukar melemah, atau stabilitas sistem keuangan mulai terganggu, otoritas moneter memerlukan informasi yang utuh agar responsnya tidak berlebihan, tetapi juga tidak terlambat. Suku bunga, stabilisasi nilai tukar, pengelolaan likuiditas, dan instrumen makroprudensial harus ditempatkan dalam pembacaan yang lebih luas terhadap kondisi domestik dan perkembangan global. * (Humas ISC)

 

Tags

Terkini